ILMU TETAP ILMU WALAU DISAMPAIKAN DARI MULUT ANJING

ILMU TETAP ILMU WALAU DISAMPAIKAN DARI MULUT ANJING. sebuah pelajaran dari penjual durian.

ilmu tetap ilmu walau disampaikan dari mulut anjing. saya mendapatkan kata-kata yang cukup menohok tersebut di dinding rumah penjual buah durian di Brongkol, Ambarawa beberapa tahun yang lalu. penggemar durian di semarang dan sekitarnya pasti tahu daerah tersebut. karena jika musim durian termasuk penghasil durian enak.

aslinya tertulis dalam bahasa jawa : “ilmu tetep ilmu sanadyan metu saka cangkeme asu”. cadas, keras serta menggambarkan kondisi kita saat ini.

bagaimana kita terbiasa melihat “siapa yang menyampaikan BUKAN apa yang disampaikan”. begitu yang menyampaikan orang yang tidak kita sukai misal karena bukan sealiran, bukan sepaham, berbeda pandangan, bahkan terkadang karena hal-hal yang sifatnya pribadi dan di luar konteks, maka kita cenderung untuk menolak. dan saat ini tidak hanya menolak tapi ditambahi dengan serangan balik dan melebar kemana-mana.

kita terbiasa melihat kebenaran adalah kebenaran menurut kita, bukan kebenaran yang sesungguhnya. kebenaran menurut kita artinya “pokok’e” yaitu apa pun yang terjadi aku yang benar, itulah kebenaran yang didasarkan dari emosi, bukan hati, rasa, empati dan logika. paling gampang contohnya jika kita ditegur oleh orang yang lebih muda atau anak kecil, secara refleks kita akan berkata : anak kecil tahu apa,sih? jawaban itu menunjukkan emosi yang bicara, karena kita merasa lebih pintar, lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan anak-anak.

kebenaran yang sesungguhnya tercermin dari ungkapan ilmu tetap ilmu walau disampaikan dari mulut anjing. maknanya tidak usah melihat siapa yang bicara, kesampingkan ego dan emosi tapi dengarkan, telaah, cermati dulu apa yang disampaikannya. bisa jadi apa yang disampaikan memang benar.

satu pelajaran saya dapat dari Bapak penjual durian tersebut ketika dia bilang stok duriannya tinggal sedikit. saya bertanya, “Pak, gak ada lagi duriannya? itu yang jual disebelah sana banyak stoknya” dan dijawab “saya bisa saja ambil durian dari tempat lain dan saya masih bisa bilang ini durian brongkol toh mas nya tidak tahu, yang penting kan enak. tapi tidak mas.. saya tidak mau bohongin orang.” Langsung Jleeebbb dapat ilmu sambil makan durian…

ungkapan ilmu tetap ilmu walau disampaikan dari mulut anjing yang ada di Brongkol jadi cermin saya, bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja, walau pun dari seekor anjing sekali pun.

 

 

 

About Arief B. Muttaqien 79 Articles
orang biasa, yang biasa saja, biasa jalan-jalan, biasa makan..pokoknya biasa lahh.. tapi tetap LUAR BIASAAA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*